OPINI  

Paulus Waterpauw Sang Jenderal Humanis Putra Terbaik Papua

banner 468x60

Oleh: Dr. Margaretha Hanita, S.H., M.Si.
Dosen Program Studi Kajian Ketahanan Nasional (SKSG) Universitas Indonesia
KETIKA Pak Paulus menjadi mahasiswa S-2 di UI, saya sebagai salah seorang dosen di kampus itu berjumpa kembali dengan beliau. Artinya, sebelumnya, saya pun sering bertemu dengan beliau yaitu pada saat Pak Paulus menjadi Kapolda Papua yang pertama.

Saat itu, saya sering bekerja sama dengan beliau, yang mengharuskan saya beberapa kali ke Papua ke Polda Papua, karena saya juga bekerja sama dengan para polisi di sana. Dalam pikiran saya, tentu saja sebagai orang Papua, beliau adalah pimpinan yang angker. Itulah, kesan yang terbayang dibenak saya pertama kali.

Namun, kenyataannya tidak demikian, bahkan sebaliknya. Memang, semua anggotanya takut dan segan terhadap beliau. Saya ingat betul, saat beliau memarahi anggota anggotanya. Semua ketakutan!

Suatu ketika, bekerja sama dengan Renapta (remaja anak dan wanita) di Papua. Saat itu, saya memiliki gambaran, bahwa beliau adalah pemimpin yang galak, tegas dan disiplin. Itu yang disampaikan oleh salah satu anggotanya, dan kesan itu pula yang pertama kali mengendap di benak saya.

Namun, begitu saya langsung bertemu beliau, hehe… saya sangat terkejut, karena ternyata yang saya lihat dan saya rasakan sangat berbeda. Nyatanya, beliau itu sangat…sangat humanis. Bagi saya, beliau itu unik. Yang saya rasakan, beliau itu sangat berbeda dengan (umumnya) orang Papua lainnya. Saya pikir, di Papua sangat jarang ada pribadi seperti beliau.

Jadi, Pak Paulus itu, memang lain. Dan, bila urusannya pekerjaan, beliau itu sangat disiplin. Nah, yang terkesan bagi saya, kedisiplinannya! Ternyata, begitu juga saat beliau menjadi mahasiswa saya. Sifat kepribadian beliau itu tidak hilang. Seperti dalam berbagai diskusi, selain beliau disiplin, cerdas dalam menyerap ilmu, sangat humanis, low profile, juga sangat rajin. Tidak pernah boros dan aktif dalam diskusi.

Karena beliau rajin dan disiplin kuliah, tentu saja ber dampak juga pada mahasiswa di kelasnya. Mereka di angkat an pertama kelas besar itu (satu kelas, 34 mahasiswa), semua mahasiswa di kelas itu memang sangat berdisiplin.

Waktu itu, sempat saya merasa aneh, sekaligus bangga, karena mungkin pengaruh saya sebagai dosennya. Saya pun merasa geer banget. Tapi setelah tanya mahasiswa, eeh ternyata, karena dampak positif dari Pak Paulus itu.
“Bu, gimana saya berani bolos! Pak Paulus saja tidak pernah bolos…!” ujar mereka.

Apalagi jika berbicara bagaimana umumnya soal kedisiplinan orang Papua waktu belajar (maaf yah), memang tidak seperti Pak Paulus. Karena itu, saya pikir, bagaimana sulitnya beliau membangun kultur yang seperti ini beliau perlihatkan, khususnya di Papua.

Terhadap pendalaman ilmu, beliau termasuk cerdas, apalagi karena bidang kesibukannya seperti itu. Di mata kuliah saya, karena harus banyak diskusi yang menuntut pula harus banyak baca, maka beliau pun seperti itu. Artinya, jika beliau sangat aktif dalam setiap diskusi, karena beliau pun rajin membaca. Jadi memang yang diharapkan, bukan hanya egaliter dan low profile dengan teman-temannya, tapi juga harus terus banyak membaca.
Walau dengan kesibukannya, saya melihat beliau itu sosok yang semangat dalam belajar. Tentu saja sebagai dosennya sekaligus pembimbingnya, saya sangat menghargai betul.

Dalam bimbingan, beliau pun sangat rajin. Apalagi beliau itu sebagai praktisi. Jadi, apa yang beliau pelajari memang ingin betul-betul beliau ketahui. Kalau potret akademisi, kita lihat das sollen dan das sein. Nah, beliau itu sejak awal saja sudah memikirkan tesisnya, sehingga saya melihat beliau memiliki keinginan yang kuat dalam pengabdian.
Di luar kampus, saya juga kenal dengan istri beliau. Dan seperti sejak awal saya katakan, beliau itu memang sangat humanis, tidak menjaga jarak dan menjadi teman baik.

Dalam hal lain, beliau sangat pintar bernyanyi, suaranya bagus banget, bukan level yang biasa-biasa. Artinya, beliau itu multi talenta, sehingga bagi saya, beliau itu seniman juga.
Saya berharap, semoga beliau tetap bisa mengabdi. Karena beliau itu sangat potensial, bukan saja sebagai pemimpin, tapi juga sebagai pelayanan masyarakat. Saya 15 tahun mengadakan penelitian tentang Papua, dan beliau termasuk salah seorang putra terbaik Papua(.***)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *