>

KAKA BAS DI MATA SAYA

Dr. (HC) John Tabo, SE., MBA. (Gubernur Papua Pegunungan (2025-2030), Bupati Mamberamo Raya (20212025), Bupati Tolikara (2005-2010), Ketua DPRD Kab. Jayawijaya (2000-2004))

Bagi saya, Bapak Barnabas Suebu yang kami sapa dengan penuh hormat sebagai Kaka Bas—bukan sekadar seorang pemimpin.

Beliau adalah cahaya yang sejak dini telah menerangi cara pandang dan perjalanan hidup saya, bahkan ketika saya belum sepenuhnya memahami makna kepemimpinan itu sendiri. Kisah beliau mengajarkan bahwa kepemimpinan besar selalu berakar dari pengabdian yang sederhana.

Kaka Bas memulai kariernya sebagai pengamat cuaca di Direktorat Meteorologi dan Geofisika Irian Barat, dan pernah ditugaskan di Wamena, Kabupaten Jayawijaya pada tahun 1970an.

Dari wilayah pegunungan itulah, beliau mengenal denyut kehidupan rakyat Papua secara nyata, sebuah pengalaman yang kelak membentuk karakter kepemimpinannya yang membumi dan dekat dengan rakyat.

“Saat saya masih duduk di bangku SMP YPK Sentani pada tahun 1985, nama Kaka Bas telah bergema sebagai Ketua DPRD Provinsi Irian Jaya (1982–1988). Bagi kami, anak-anak Papua, beliau bukan hanya pejabat, melainkan simbol harapan—bahwa dari tanah ini, dari kesederhanaan ini, dapat lahir pemimpin besar yang mengabdi dengan hati,” Ungkapnya.

Kekaguman itu terus bertumbuh seiring perjalanan hidup saya. Ketika saya mengabdi sebagai Kepala Pos Pemerintahan di Kuyawage, Ninia, dan Elelim (1990–1993), beliau menjabat sebagai Gubernur Irian Jaya ke-9. Dari kejauhan di Pegunungan Papua, saya menyaksikan kepemimpinan yang tidak berjarak—kepemimpinan yang turun menyapa, hadir di tengah rakyat, dan menjangkau hingga ke kampung-kampung dengan visi yang besar.

Beliau dikenal dengan semangat “Kaka Bas Turdes” (1988–1993), sebuah pendekatan kepemimpinan yang merakyat dan membumi. Ketika kembali memimpin sebagai Gubernur Papua (2006–2011), semangat itu menjelma dalam “Kaka Bas Pulang Kampung” melalui Program RESPEK—Rencana Strategis Pembangunan Kampung, yang menegaskan bahwa pembangunan sejati harus dimulai dari kampung, dari rakyat, dan dari manusia Papua itu sendiri.

Perjalanan kami kemudian dipertemukan dalam lintasan yang lebih dekat. Saat beliau dipercaya sebagai Duta Besar Indonesia untuk Meksiko, saya menjabat sebagai Ketua DPRD Kabupaten Jayawijaya. Dan ketika saya diberi amanah sebagai Bupati Tolikara pertama (2005–2010), Kaka Bas kembali memimpin sebagai Gubernur Papua ke-13 (2006–2011).

Dalam berbagai kesempatan, kami bertemu, berdialog, dan saling menguatkan dalam satu semangat yang sama: membangun Papua dengan hati, keberanian, dan ketulusan. Bahkan dalam satu momentum bersejarah pada tahun 2007, kami sama-sama menerima penghargaan dari Presiden Republik Indonesia—sebuah pengakuan atas pengabdian yang lahir dari ketulusan.

Pada Pilkada Gubernur Papua tahun 2011, saya mendapat kehormatan besar dipilih oleh Kaka Bas sebagai pasangan calon Wakil Gubernur. Namun, jalan yang kami tempuh tidaklah mudah—penuh liku, rintangan, dan dinamika yang tidak selalu berpihak pada keadilan.

Meski kami telah melalui tahapan deklarasi dan pendaftaran resmi di KPUD Provinsi Papua, pada akhirnya kami tidak dapat bertarung secara fair. Namun kami memilih untuk tetap bersyukur, karena kami percaya bahwa setiap proses adalah cara Tuhan membentuk keteguhan, kerendahan hati, dan iman.

Hingga hari ini, Kaka Bas tetap menjadi inspirasi yang tak pernah padam. Bagi kami, anak-anak gunung, beliau adalah bukti bahwa keterbatasan bukanlah takdir, melainkan titik awal untuk melampaui batas. Almarhum Kaka Alex Hesegem, salah satu kader terbaik beliau, telah membuka jalan sebagai anak gunung pertama yang menjadi Wakil Gubernur Papua mendampingi Kaka Bas.

Dan hari ini, saya diberi kepercayaan oleh rakyat sebagai Gubernur Papua Pegunungan pertama— sebuah perjalanan yang tidak terlepas dari jejak nilai, visi, dan teladan yang diwariskan oleh Kaka Bas. Antara Kaka Bas dan saya, terjalin satu benang merah yang kuat: visi untuk membangun manusia Papua, sekaligus membebaskan tanah ini dari ketertinggalan, keterbelakangan, dan keterisolasian—menuju Papua yang bermartabat, maju, dan berdaya.

Di usia beliau yang ke-80 tahun, saya meyakini bahwa warisan terbesar Kaka Bas bukanlah jabatan atau prestasi, melainkan nilai-nilai kepemimpinan: ketulusan dalam melayani, keberanian dalam mengambil keputusan, dan komitmen yang teguh untuk memuliakan manusia Papua.

Kepada generasi muda, belajarlah dari beliau—bahwa pemimpin sejati bukanlah mereka yang berdiri di atas rakyat, tetapi mereka yang berjalan bersama rakyat. Selamat ulang tahun ke-80, Kaka Bas. Terima kasih atas terang yang telah engkau nyalakan di Tanah Papua. Jejakmu akan terus hidup, menjadi suluh yang menerangi langkah generasi demi generasi.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *