>

Jejak Kaka Bas: Inspirasi yang Tak Lekang oleh Waktu

Victor Abraham Abaidata

(Komisaris Independen Bank Papua, 2024-2028)

Pemimpin yang dikenang karena jabatan yang pernah disandangnya. Namun ada pula sosok yang hidup jauh melampaui itu, yang jejaknya menetap dalam ingatan, dan pengaruhnya membentuk cara berpikir serta arah hidup banyak orang.

Bagi saya, dan bagi generasi muda Papua, Bapa Bas—yang kami sapa akrab sebagai Kaka Bas, adalah sosok dalam kategori yang kedua itu: pemimpin yang tidak hanya tercatat dalam sejarah, tetapi juga berdiam dalam kesadaran kolektif sebagai sumber inspirasi yang terus menyala dari waktu ke waktu.

Jejak kepemimpinan beliau dimulai pada usia yang sangat muda. Di usia 28 tahun, beliau telah dipercaya menjadi Ketua KNPI Irian Jaya pertama. Pada usia 31 tahun menjadi Anggota DPRD Provinsi, dan pada usia 36 tahun menjabat Ketua DPRD Provinsi Irian Jaya.

Puncaknya, pada usia 42 tahun, beliau mengemban amanah sebagai Gubernur Irian Jaya ke-9. Perjalanan itu tidak berhenti, beliau kemudian menjadi Anggota MPR RI, Duta Besar Republik Indonesia untuk Meksiko, hingga kembali dipercaya sebagai Gubernur Papua ke-13.

Semua itu menjadi penegasan bahwa kepemimpinan sejati tidak menunggu usia matang, melainkan lahir dari keberanian mengambil peran, integritas dalam bertindak, dan visi besar yang melampaui zamannya.

Saya pribadi menyimpan kenangan yang sangat berkesan bersama Kaka Bas. Pada tahun 2004, ketika saya masih aktif sebagai pengurus DPP KNPI, kami membentuk Kaukus Pemuda Bhinneka Tunggal Ika dan menyelenggarakan sebuah kegiatan nasional di Hotel Sahid, Jakarta, yang dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Dalam forum tersebut, Kaka Bas sebagai mantan Ketua DPD KNPI Irian Jaya, diundang sebagai salah satu tokoh dari kawasan timur Indonesia untuk memberikan kontribusi pemikiran atas berbagai isu strategis kebangsaan.

Dalam momentum itu, saya berkesempatan bertemu dan berbincang langsung dengan beliau. Di sela percakapan, Kaka Bas mengisahkan bahwa sejumlah masyarakat telah mendatanginya di kediamannya di Bintaro, memintanya untuk maju dalam Pilgub Papua 2006. Lalu, dengan nada yang tenang namun penuh arti, beliau berkata kepada saya, “Kalau bapa maju, nanti Vicky bantu bapa yah.”

Kalimat yang sederhana, namun bagi saya menjadi sebuah kehormatan, sekaligus panggilan pengabdian.

Saya pun menepati janji itu. Dari Jakarta saya bertolak ke Jayapura, bergabung dalam perjuangan, dan menjadi bagian kecil dari proses yang mengantarkan beliau kembali memimpin Papua. Harapan kami saat itu sederhana namun sarat makna: agar Dana Otonomi Khusus Papua benar-benar hadir dan dirasakan hingga ke kampung-kampung, menyentuh kehidupan masyarakat secara nyata.

Ketika beliau berhasil terpilih dan dilantik, saya berencana kembali ke Jakarta untuk melanjutkan perjalanan hidup dan jejaring pergaulan yang telah saya rintis sejak tahun 1997. Namun, rencana itu berubah. Kaka Bas meminta saya untuk tetap tinggal dan membantu beliau. Dengan mempertimbangkan keluarga, khususnya ibu saya, saya akhirnya memutuskan untuk mengabdi—menjadi bagian dari lingkar kerja sebagai Staf Gubernur Papua di Gedung Negara, bahkan turut membantu Mama Bas sebagai Sekretaris Pribadi.

Dari sanalah, saya tidak hanya belajar tentang pekerjaan, tetapi juga menyerap nilai, disiplin, dan keteladanan yang dijalankan dalam keseharian seorang pemimpin.

Kaka Bas adalah sosok pemimpin visioner dengan jejaring pergaulan internasional yang luas. Beliau dikenal sangat teliti, disiplin, serta memiliki cara berpikir dan bertindak yang efisien dan efektif. Ketegasannya berpadu dengan karisma, sementara pengalaman panjangnya menjelma menjadi kebijaksanaan. Saya tidak pernah merasa jenuh belajar darinya, bahkan ketika beliau mengulang hal yang sama, karena justru di situlah saya memahami arti konsistensi dalam kepemimpinan.

Pada akhirnya, bagi saya, Kaka Bas bukan sekadar figur yang pernah memimpin Tanah Papua. Beliau adalah pengingat bahwa kepemimpinan sejati adalah tentang membuka jalan bagi orang lain untuk tumbuh, dan saya adalah salah satu yang dibentuk melalui proses itu. Apa yang beliau wariskan bukan hanya capaian, tetapi juga standar: tentang bagaimana seorang anak Papua harus berani bermimpi, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan mengabdi dengan tulus bagi tanahnya.

Selamat ulang tahun ke-80, Bapa Bas.

Kiranya jejak dan keteladanan yang Bapa torehkan terus hidup, menjadi pelita yang menuntun langkah generasi Papua, hari ini, esok, dan sepanjang masa.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *