Perjalanan pembangunan manusia di Tanah Papua tidak pernah terlepas dari peran gereja sebagai pusat pembentukan iman, karakter, dan kepemimpinan. Dalam dinamika perubahan zaman yang semakin kompleks, gereja tetap menjadi ruang lahirnya generasi yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga tangguh dalam menghadapi tantangan sosial, ekonomi, dan globalisasi.

Dalam konteks sejarah pelayanan gereja di Papua, Sinode GKI di Tanah Papua merupakan pionir gereja di Tanah Papua yang berakar dari sejarah misi Kristen sejak abad ke-19. Sinode ini berkembang menjadi organisasi gereja Protestan mandiri terbesar di wilayah Papua dan memiliki peran fundamental dalam membentuk peradaban iman, pendidikan, serta kepemimpinan masyarakat Papua.

Dalam konteks itulah, saya memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada ‘Kaka Ibu’ Petronela Krenak, S.Sos., M.Tr.A.P., yang mencatatkan sejarah sebagai perempuan Papua pertama yang memimpin Forum Generasi Muda (FGM) GKI di Tanah Papua.

Penatua sekaligus Bupati Sorong Selatan tersebut resmi terpilih sebagai Ketua Umum Forum Generasi Muda GKI se-Tanah Papua, periode 2026-2031, setelah meraih suara terbanyak dalam proses pemilihan yang digelar pada 27 Februari 2026. Dalam pemilihan yang diikuti oleh empat kandidat, beliau berhasil memperoleh 43 suara dari total 67 pemilih, sekaligus mengungguli kandidat lainnya dan dipercaya memimpin organisasi kepemudaan gereja tersebut.
Kepemimpinan beliau bukan hanya sebuah capaian organisatoris, tetapi simbol kemajuan kesadaran kolektif gereja dalam memberi ruang kepemimpinan kepada generasi muda dan perempuan Papua. Lebih dari itu, beliau juga dikenal sebagai perempuan Papua pertama yang menjadi kepala daerah secara definitif di Tanah Papua, sekaligus menjadi satu-satunya perempuan di antara 48 kepala daerah di Tanah Papua, sebuah tonggak sejarah penting dalam perjalanan kepemimpinan daerah serta penegasan bahwa perempuan Papua memiliki kapasitas kepemimpinan yang kuat dan transformatif.
Momentum ini melengkapi jejak sejarah yang sebelumnya ditorehkan oleh Dr. Ribka Haluk, S.Sos., MM., perempuan Papua pertama yang menjabat Penjabat Gubernur Papua Tengah pada tahun 2022, setelah sebelumnya dipercaya sebagai Penjabat Bupati Yalimo. Rangkaian capaian tersebut menunjukkan bahwa perempuan Papua kini semakin hadir sebagai kekuatan moral dan transformasional dalam pembangunan.
Gereja dan Transformasi Kepemimpinan Generasi Papua
Sebagai pribadi yang pernah bertumbuh dan terlibat dalam aktivitas pemuda gereja, saya memahami bahwa gereja bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga sekolah kehidupan. Dari gerejalah lahir nilai pelayanan, integritas, disiplin, dan semangat pengabdian.
Pengalaman itu pula yang membentuk cara pandang dan menghantar saya pada tugas pengabdian saat ini sebagai Komisaris Independen di Bank Papua, bahwa pembangunan Papua ke depan sangat ditentukan oleh kualitas karakter generasi mudanya.
Forum Generasi Muda GKI di Tanah Papua memiliki posisi strategis sebagai ruang kaderisasi kepemimpinan masa depan, bukan hanya untuk gereja, tetapi juga untuk masyarakat dan bangsa.
Selain itu, gereja juga memiliki kekuatan aset yang sangat besar, baik berupa tanah, fasilitas pelayanan, lembaga pendidikan, maupun jaringan sosial jemaat, yang apabila dikelola secara profesional dan transparan dapat menjadi fondasi kemandirian pelayanan Gereja Kristen Injili di Tanah Papua. Pengelolaan aset gereja yang produktif akan memperkuat pelayanan yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan umat.
Tantangan Generasi Muda Papua di Era Digital dan Tatanan Global
Generasi muda Papua saat ini menghadapi realitas baru yang jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya. Era digitalisasi telah menghapus batas ruang dan waktu, mempercepat arus informasi, sekaligus menghadirkan tantangan serius terhadap identitas budaya dan ketahanan karakter.
Kita sedang memasuki era penyatuan tatanan global, di mana kompetisi tidak lagi bersifat lokal, tetapi terbuka secara internasional. Teknologi digital membawa peluang besar dalam pendidikan, ekonomi, dan inovasi, namun juga membawa risiko seperti budaya instan, disorientasi nilai, serta melemahnya kohesi sosial.
Dalam konteks pembangunan nasional, generasi muda Papua juga sedang berada dalam momentum strategis menuju Visi Indonesia Emas 2045, yaitu cita-cita Indonesia menjadi negara maju dan berdaya saing global pada usia 100 tahun kemerdekaan. Bagi Tanah Papua, momentum ini berjalan seiring dengan implementasi Otonomi Khusus Papua Jilid II hingga tahun 2041, yang memberikan ruang fiskal, afirmasi kebijakan, serta percepatan pembangunan sumber daya manusia Papua.
Artinya, generasi muda GKI hari ini adalah generasi yang akan memetik dan sekaligus menentukan keberhasilan dua agenda besar tersebut: Indonesia Emas 2045 dan Otsus Papua Jilid II.
Dalam situasi ini, generasi muda Papua tidak boleh hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi harus menjadi kreator dan inovator.
Kekuatan utama generasi Papua harus tetap bertumpu pada tiga hal: iman yang kuat, karakter yang kokoh, dan kompetensi yang relevan dengan perkembangan zaman.
Di sinilah peran strategis Forum Generasi Muda GKI, menjadi pusat literasi digital berbasis nilai iman serta penguatan identitas budaya Papua dalam arus globalisasi.
Lebih dari itu, generasi muda Papua juga memiliki tanggung jawab historis dan moral untuk menjaga Tanah Papua, menjaga tanahnya, budayanya, persatuannya, serta masa depannya, sebagai tanah berkat yang dipercayakan Tuhan Yesus bagi generasi kini dan generasi yang akan datang.
FGM GKI dan Penguatan Ekonomi Jemaat Berbasis Local Wisdom
Selain pembinaan spiritual dan kepemimpinan, tantangan besar generasi muda Papua ke depan adalah kemandirian ekonomi. Karena itu, FGM GKI di Tanah Papua perlu mempelopori gerakan pemberdayaan ekonomi jemaat berbasis potensi local wisdom. Papua memiliki kekayaan sumber daya budaya dan alam yang luar biasa, mulai dari pertanian lokal, hasil hutan non-kayu, kerajinan tradisional, hingga ekonomi kreatif berbasis identitas budaya.
Pendekatan ekonomi berbasis gereja memiliki kekuatan sosial yang sangat besar karena bertumpu pada nilai kebersamaan dan kepercayaan.
FGM GKI di Tanah Papua perlu mengambil peran strategis melalui:
a. literasi kewirausahaan generasi muda gereja,
b. pembentukan komunitas usaha jemaat,
c. digitalisasi pemasaran produk lokal,
d. serta pendampingan ekonomi keluarga berbasis komunitas gereja.
Transformasi pelayanan gereja ke depan tidak cukup hanya berbicara tentang aspek spiritual, tetapi juga harus menyentuh kesejahteraan umat secara nyata.
Pesan Moral bagi Generasi Muda Papua
Momentum kepemimpinan ini menjadi pengingat bahwa masa depan Papua sedang dipersiapkan hari ini.
Generasi muda Papua harus:
- Menjadikan iman sebagai fondasi kehidupan.
- Menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
- Menjaga identitas budaya serta menjaga Tanah Papua sebagai warisan iman dan peradaban.
- Membangun semangat pelayanan sebagai dasar kepemimpinan.
- Mengembangkan kemandirian ekonomi sebagai wujud tanggung jawab sosial.
Generasi muda Papua juga harus menjadi garam dan terang, menghadirkan nilai Kristus dalam kehidupan sosial, serta terus bersinar bagi hormat dan kemuliaan Allah hingga Maranatha.
Papua membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan berintegritas.
Penutup: Gereja sebagai Rumah Peradaban Masa Depan Papua
Kepemimpinan Petronela Krenak dalam Forum Generasi Muda GKI di Tanah Papua adalah simbol harapan bahwa gereja tetap menjadi rumah pembentukan peradaban Papua.
Dengan penguatan iman, karakter, literasi digital, serta pemberdayaan ekonomi berbasis kearifan lokal, generasi muda Papua akan mampu berdiri tegak dalam tatanan global tanpa kehilangan jati dirinya.
Gereja harus terus menjadi terang, mempersiapkan generasi yang melayani, memimpin, menjaga Tanah Papua, serta membangun masa depan yang bermartabat bagi kemuliaan Tuhan.

Victor Abraham Abaidata
(Pernah bertumbuh dalam aktivitas Pemuda Gereja & KNPI)













