Menu

Mode Gelap
Satgas Kepolisian Operasi Damai Cartenz Patroli Humanis Dengan Waraga di Ilaga Patroli di Ilaga, Satgas Kepolisian Operasi Damai Cartenz Bangun Kedekatan dengan Masyarakat Polisi Dalami Dugaan Keterlibatan KKB Dalam Insiden Penembakan Pintu Masuk Festival Budaya Lembah Baliem Terkena Penegakan Hukum , Ini Sejumlah Aksi GW DPO di Tembagapura Tim Gabungan Lakukan Penegakan Hukum Terhadap DPO di Tembagapura Personel Operasi Damai Cartenz-2026 Bekali Diri dengan Edukasi Kesehatan, Wujud Kepedulian terhadap Kesiapan dan Kesejahteraan Anggota

OPINI

𝗜𝘀𝘂 𝗣𝗮𝗿𝘁𝗮𝗶 𝗖𝗼𝗸𝗹𝗮𝘁 : 𝗕𝗹𝘂𝗻𝗱𝗲𝗿 𝗣𝗼𝗹𝗶𝘁𝗶𝗸 𝗕𝘂𝗻𝘂𝗵 𝗗𝗶𝗿𝗶

badge-check


					𝗜𝘀𝘂 𝗣𝗮𝗿𝘁𝗮𝗶 𝗖𝗼𝗸𝗹𝗮𝘁 : 𝗕𝗹𝘂𝗻𝗱𝗲𝗿 𝗣𝗼𝗹𝗶𝘁𝗶𝗸 𝗕𝘂𝗻𝘂𝗵 𝗗𝗶𝗿𝗶 Perbesar

Oleh

Marinus Yaung
Warga Kota Jayapura, Papua

Dalam kontestasi Pemilu, selalu ada kontentas yang kalah dan kontestan yang menang. Dalam teori politik kekuasaan, kontestan yang menang Pemilu, karena sukses memaksimalkan semua sumber daya yang dimiliki untuk merebut kursi kekuasaan.

Sebaliknya, kontestan yang kalah karena tidak mampu memaksimalkan semua sumber daya, yang dimiliki, atau keliru dalam memanfaatkan sumber daya tersebut, untuk merebut kursi kekuasaan.

Salah satu sumber daya para kontestan pemilu, adalah identitas primodialisme yang dijadikan politik identitas untuk kepentingan elektoral. Politik identitas seperti agama dan kesukuan, paling sering dimainkan oleh para kontestan untuk merebut dukungan pemilih.

Penggunaan politik identitas dalam kontestasi pemilu, kadang beririsan langsung dengan persoalan harga diri dan martabat para kontestan dan pedukungnya. Sehingga ketika kontestan yang memainkan politik identitas kalah dalam pemilu, mereka juga merasa kehilangan martabat dan harga diri.

Mereka tidak akan bisa menerima kekalahan. Mereka akan berusaha mengeksploitasi hal – hal absurd dan aneh dari lawan politik atau kontestan lain, yang menang, untuk mendiskreditkan kontestan tersebut di mata publik.

Pilkada Gubernur Papua tahun 2024 adalah salah satu contoh, kontestan pemilu yang memainkan politik identitas untuk mendulang suara elektoral. Kontestan yang memainkan politik identitas, mereka yakin akan menangkan kursi Gubernur Papua dengan jualan politik agama dan suku.

Ternyata hasil sementara perhitungan KPU Provinsi Papua, kontestan yang jualan politik identitas, kalah kontestasi dari lawan politiknya. Pendukungnya tidak bisa terimah. Pendukungnya kembali memainkan isu partai coklat untuk mendiskreditkan institusi seragam coklat.

Isu partai coklat dimainkan oleh kontestan dan pendukungnya karena mereka tidak bisa terimah kekalahan. Mereka mau memprovokasi pendukungnya untuk membuat chaos dan menimbulkan instabilitas politik dan keamanan di Papua.

Para provokator yang memainkan isu partai coklat, mereka merasa bahwa politik identitas agama dan suku, bukan sesuatu yang jahat dalam pemilu. Mereka membuat panggung politik tapi mereka tidak siap politik identitas mereka, kalah telak di panggung politik tersebut.

Mereka menciptakan panggung untuk lawan politik menang di panggung tersebut, dengan memaksimalkan semua, sumber daya yang dimiliki lawan politik. Mereka kaget dan terkejut. Mereka kemudian memainlan isu lain, isu partai coklat untuk memukul balik lawan politik.

Isu partai coklat mereka mainkan, dengan harapan, bisa merubah hasil pemilu. Ternyata isu partai coklat, semakin membuat mereka, memperbanyak musuh dan lawan politik. Sehingga nantinya, mereka akan kena pukul betubi – tubi, semakin babak belur, dan kalah telak.

Isu partai coklat dipikir senjata pamungkus, padahal itu senjata bumerang yang akan kembali memukul dan menghabisi kontestan tersebut berserta para pendukungnya.

Isu partai coklat hanya dimainkan oleh orang – orang yang tidak tahu dengan pasti peta politik atau karakter arena politik yang mereka masuki.

Kata politisi senior PDIP, Bambang Pacul, kalau di arena politik kontestasi, ada orang baik sebagai kontestasi pemilu, hati – hati jaga bahasa dan narasi. Karena orang baik, selalu akan dibela oleh kekuatan – kekuatan politik dibelakang panggung politik.

Kekuatan – kekuatan politik di belakang panggung politik indonesia, biasanya ada tiga kekuatan besar. Yakni kekuatan nasionalis, agama dan istitusi keamanan negara. Kalau yang dimaksud partai coklat oleh BTM dan pendukungnya, adalah tiga kekuatan politik dibelakang panggung politik nasional ini, maka kontestasi akan semakin sulit.

Karena bukan saja melawan orang baik, tetapi juga melawan tiga poros utama kekuatan politik nasional. Satu lawan politik saja sudah sulit, apalagi melawan poros kekuatan politik nasional. Isu partai coklat itu, ibarat ingin menang pertandingan sepak bola, tapi lakukan blunder gol bunuh diri ke gawang sendiri.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Jejak Kaka Bas: Inspirasi yang Tak Lekang oleh Waktu

30 April 2026 - 19:30 WIB

APRESIASI UNTUK PETRONELA KRENAK & PESAN KHUSUS BAGI FGM GKI DI TANAH PAPUA

28 Februari 2026 - 17:21 WIB

Analisis Kemenangan (BTM –YB)

16 Desember 2024 - 09:06 WIB

Memilih MDF Sebagai Gubernur Papua

9 Desember 2024 - 12:05 WIB

Surat Terbuka untuk JMSI

26 Juli 2022 - 16:32 WIB

Trending di OPINI