JAYAPURA iNFOPAPUA.ID- Sekretaris Umum BPD HIPMI Papua Pegunungan Anggota DPR Papua Pegunungan, mengatakan Upaya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional membutuhkan kontribusi nyata dari sektor swasta, khususnya para pengusaha. Indonesia tidak dapat semata bergantung pada kebijakan pemerintah, melainkan harus memperkuat peran dunia usaha sebagai motor penggerak ekonomi. Pengalaman negara-negara maju seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan Singapura menunjukkan bahwa keberhasilan ekonomi sangat ditopang oleh produktivitas dan daya saing para entrepreneur.
Dalam konteks tersebut, penguatan kolaborasi Government-to-Business (G2B) menjadi krusial. Sinergi yang terbangun secara sistematis antara pemerintah dan pelaku usaha akan melahirkan kebijakan yang implementatif, sekaligus mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi. Sebagai negara berpendapatan menengah, Indonesia dituntut untuk adaptif terhadap dinamika global, keterbukaan informasi, serta percepatan transformasi berbasis teknologi.

Menjawab tantangan tersebut, William Heindrich sebagai calon Ketua Umum BPP Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) periode 2026–2029 menghadirkan gagasan strategis melalui Konsep HIPMI 8%. Gagasan ini menempatkan teknologi dan inovasi sebagai instrumen utama dalam mencetak sedikitnya 10.000 pengusaha muda baru di Indonesia—sebuah langkah konkret untuk memperkuat struktur ekonomi nasional.
Lebih jauh, HIPMI 8% bukan sekadar target pertumbuhan, melainkan energi baru yang diarahkan pada peningkatan pendapatan negara melalui basis pajak yang lebih luas, sekaligus berpotensi membuka hingga satu juta lapangan kerja. Dampak berantai ini menjadi bukti bahwa konsep tersebut memiliki relevansi dan daya dorong yang kuat dalam menjawab tantangan ekonomi ke depan.
Dengan latar belakang, kapasitas, serta visi yang dimilikinya, William Heindrich layak dipertimbangkan sebagai figur yang mampu memimpin HIPMI ke arah yang lebih progresif. Kehadirannya sebagai putra Kaimana dari Tanah Papua juga menegaskan bahwa kontribusi daerah terhadap pembangunan ekonomi nasional semakin nyata dan strategis.
HIPMI membutuhkan energi baru—dan energi itu kini hadir untuk menggerakkan Indonesia menuju pertumbuhan yang lebih kuat, inklusif, dan berkelanjutan.(**)













