JAYAPURA iNFOPAPUA.ID -Ancaman terhadap warga sipil tak boleh menjadi alasan untuk meruntuhkan persaudaraan di Tanah Papua. Wakil Ketua I Majelis Rakyat Papua (MRP), Max Ohee, menegaskan bahwa Papua adalah rumah bersama yang harus dijaga dengan nilai-nilai adat, kemanusiaan, dan perdamaian, bukan diwarnai intimidasi maupun ancaman terhadap warga hanya karena perbedaan asal-usul dan identitas.
Pernyataan itu disampaikan Max Ohee saat menghadiri silaturahmi yang diselenggarakan Direktorat Intelijen Polda Papua di Jayapura, menyikapi beredarnya sejumlah pernyataan di media sosial yang mengatasnamakan kelompok bersenjata dan berisi ancaman terhadap warga sipil, termasuk guru, tenaga kesehatan, petani, serta masyarakat non-Papua.
Ia mengingatkan masyarakat agar tetap tenang, tidak terprovokasi informasi yang belum terverifikasi, dan bersama-sama menjaga Papua agar tetap aman serta damai.
“Papua adalah rumah kita bersama. Jangan biarkan ancaman memisahkan persaudaraan. Masa depan Papua merupakan tanggung jawab kita bersama,” kata Max Ohee saat menghadiri undangan silaturahmi yang diselenggarakan Direktorat Intelijen Polda Papua di Jayapura.
Max mengatakan, sejumlah pernyataan yang beredar di media sosial dalam beberapa hari terakhir memuat berbagai ancaman, mulai dari larangan memasuki wilayah tertentu hingga ultimatum terhadap warga sipil, termasuk guru, tenaga kesehatan, petani, dan masyarakat yang dikategorikan sebagai pendatang atau non-Papua.
Menyikapi situasi tersebut, ia meminta masyarakat tetap tenang, bersikap bijaksana, serta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi kebenarannya.Ia menegaskan bahwa pernyataan yang beredar tersebut bukan keputusan MRP, bukan ketetapan adat yang berlaku bagi seluruh masyarakat adat Papua, dan bukan pula kebijakan resmi pemerintah.
“Tidak boleh ada pihak yang secara sepihak mengatasnamakan masyarakat adat untuk menebarkan ketakutan, mengancam keselamatan warga, atau menghalangi pelayanan publik,” ujarnya.
Menurut Max, kehidupan manusia, penghormatan terhadap sesama, dan kedamaian merupakan nilai penting dalam adat yang harus terus dijaga oleh seluruh masyarakat Papua.Karena itu, tidak ada pembenaran untuk mengancam atau mencelakai orang lain hanya karena perbedaan asal-usul, identitas, maupun latar belakang.
Ia menjelaskan, guru yang datang untuk mendidik anak-anak Papua, tenaga kesehatan yang melayani masyarakat, aparatur pemerintah yang menjalankan tugas pelayanan publik, serta petani yang mengolah tanah untuk menghasilkan pangan memiliki peran penting dalam kehidupan sosial dan pembangunan daerah.Mereka, kata dia, bukan musuh masyarakat Papua, melainkan bagian dari kehidupan bersama yang perlu dihormati dan dilindungi.
“Semua memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat Papua. Mereka bukan musuh masyarakat, tetapi bagian dari kehidupan sosial dan pembangunan yang harus kita lindungi bersama,” katanya.
Max juga meminta agar setiap tindakan intimidasi, ancaman keselamatan, maupun kekerasan terhadap warga ditangani sesuai hukum yang berlaku.Ia mengingatkan agar masyarakat sipil yang tidak bersalah tidak menjadi korban akibat ancaman maupun konflik yang berkembang di tengah masyarakat.Selain itu, ia mengimbau masyarakat agar tidak menyebarluaskan video, rekaman suara, maupun pesan berisi ancaman tanpa terlebih dahulu memastikan kebenaran dan mempertimbangkan dampaknya.
Menurutnya, penyebaran informasi yang belum terverifikasi dapat memperbesar keresahan, memicu ketakutan, dan memperkeruh situasi keamanan di Papua.Masyarakat diminta mengedepankan verifikasi informasi serta menyampaikan laporan kepada pihak berwenang apabila menemukan indikasi ancaman atau tindakan yang berpotensi membahayakan keselamatan warga.
Max turut mengajak kepala adat, tokoh agama, tokoh perempuan, tokoh pemuda, serta seluruh elemen masyarakat untuk berperan aktif menjaga ketertiban dan keamanan di lingkungan masing-masing.Ia menilai keterlibatan para tokoh masyarakat sangat penting untuk memperkuat komunikasi, meredam ketegangan, dan mencegah berkembangnya konflik di tengah kehidupan bermasyarakat.
“Setiap warga yang hidup berdampingan secara damai dan turut membangun Papua harus dihormati keselamatan serta hak-haknya sesuai hukum,” ujarnya.
Ia menegaskan, perbedaan latar belakang tidak boleh menjadi alasan untuk saling mencurigai, apalagi memutus hubungan persaudaraan yang selama ini terjalin di Tanah Papua.Menurut Max, ancaman tidak boleh sampai menyebabkan sekolah berhenti beroperasi, pelayanan kesehatan terganggu, aktivitas ekonomi terhenti, maupun hubungan sosial antarmasyarakat menjadi rusak.
Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat bersama pemerintah, aparat keamanan, dan para tokoh setempat menjaga Papua agar tetap menjadi tanah yang damai, dengan menjunjung tinggi nilai adat, kemanusiaan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap sesama.“Papua membutuhkan perdamaian, bukan ancaman. Papua membutuhkan persatuan, bukan permusuhan,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Max juga menekankan pentingnya membangun komunikasi dan koordinasi antara Polri, pemerintah, serta masyarakat.
Ia berharap semangat Polisi Bersama Masyarakat tidak hanya menjadi slogan, tetapi diwujudkan melalui kegiatan nyata, termasuk dengan memperkuat silaturahmi, meningkatkan komunikasi, dan membangun kemitraan untuk menjaga keamanan serta ketertiban di Papua.
Menurutnya, komunikasi yang terbuka antara aparat keamanan dan masyarakat menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah kesalahpahaman dan menciptakan situasi yang kondusif.
Max berharap seluruh elemen masyarakat dapat mengambil bagian dalam menjaga keamanan, sehingga pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik.
Ia menutup pesannya dengan mengajak masyarakat menjaga persatuan dan tidak memberikan ruang bagi pihak mana pun yang berupaya menebarkan ketakutan di tengah kehidupan bersama.
Dengan semangat persaudaraan, ia berharap seluruh masyarakat dapat bersama-sama menjaga Papua sebagai rumah bersama yang aman, damai, dan bermartabat.(**)



















