JAYAPURA iNFOPAPUA.ID,- Menjelang Pilkada Papua Agustus 2025, seluruh elemen masyarakat secara khusus Tim Sukses BTM-CK diminta mewaspadai kelompok-kelompok penumpang gelap reformasi, pembajak demoraksi yang tidak menginginkan proses pemilihan gubernur dan wakil gubernur berlangsung aman dan demokratis.
Pesan tersebut disampaikan Paulus Waterpauw, tokoh asal Papua pada Selasa (03/06/2025) kepada Tim Sukses BTM-CK dan seluruh pemilih di Provinsi Papua dengan melihat situasi demokratis menjelang Pilkada Papua yang semakin mengkhawatirkan.

Kelompok-kelompok penumpang gelap reformasi dan pembajak demokrasi seperti pebisnis hitam, koruptor dan politisi busuk, kata Waterpauw saat ini sedang menyusup, memboncengi situasi untuk merampas demokrasi yang merupakan hak dan kedaulatan rakyat.
‘’Saya mengajak kita semua untuk menginterupsi berbagai gejolak politik yang akan menjadi momentum kontestasi pilkada PSU Gub/Wagub Papua dengan fenomena soal-soal bangsa yang sekarang menggelinding diberbagai sektor kehidupan tanpa akhir, kita semua sepakat dan menginginkan penyelesaiannya secara rasional, dewasa, bermartabat dan demokrasi namun kita juga perlu “membuka mata” hati kita bahwa saat ini demokrasi bukan saja semakin kompleks tetapi sudah semakin mengkhawatirkan,’’ ujar mantan Kabaintelkam Polri ini.
Polisi orang Papua pertama yang capai pangkat Komjen ini menjelaskan beberapa hal penyebab demokrasi di Papua mengkhawatirkan jelang suksesi Pilkada Papua Agustus 2025 mendatang.
‘’Tantangan demokrasi kita dewasa ini sangat tampak dan bahkan sudah melembaga yakni sikap saling curiga mencurigakan antar individu, golongan masyarakat maupun masyarakat dengan negara dan lebih parahnya lagi suasana saling tidak percaya menguatkan politik identitas dan populisme berbasis primordial,’’ terang mantan PJ Gubernur Papua Barat ini
Selain itu, kata Waterpauw situasi demokrasi makin keruh karena kompetisi elektoral tidak lagi berbasis visi, misi ataupun program politik melainkan sudah menuju penyebaran penyakit kronis ‘kebencian’ berbasis sara melalui berita bohong, karena ketakutan akibat tekanan para pihak.
Paulus Waterpauw mengingatkan bahwa factor-factor yang sudah disebutkan itu bukan saja semata-mata berkaitan dengan pihak yang sedang mengikuti Pilkada tapi diboncengi kelompok-kelompok lain yang mengutamakan kepentingan sempit dan jangka pendek.
‘’Saya juga mau ingatkan bahwa ketiga faktor diatas bukan saja semata-mata berkaitan dengan pihak yang sedang mengikuti Pilkada namun sekarang ini para pebisnis hitam, koruptor dan politik busuk turut serta mendompleng, memanfaatkan dan ikut aktif menyalahgunakan sentimen berbasis primordial tersebut untuk kepentingan sempit dan jangka pendek,’’ tandas mantan Kapolda Sumut ini.
Menyikapi fenomena tersebut, Paulus Waterpauw mengajak seluruh masyarakat adat Tabi-Saireri agar tidak bias memahami situasi yang terjadi saat ini, dan dengan tegas menolak para penumpang gelap reformasi yang telah dan akan membajak demokrasi dari rakyat.
‘’Para tokoh formal dan non formal antara lain tokoh agama, tokoh masyarakat, pemimpin adat serta tokoh pemuda, tokoh perempuan maupun keluarga besar suku Tabi Saireri untuk berkomitmen memenangkan demokrasi yang berkedaulatan rakyat di Provinsi Papua. **













